Pengertian Mabrur: Mabrur Hajinya atau Mabrur Hidupnya

Mabrur banyak disepakati oleh orang indonesia sebagai sebuah tanda sukses dalam melakukan rukun islam ke-5 yaitu Haji. Namun dari bahasa arabnya sendiri, Mabrur bisa dipecah menjadi Birru [Kebaikan] dan Hasan [Kebajikan]. Mabrur lebih daripada suksesnya seseorang dalam melakukan ibadah haji, namun bagaimana seorang muslim dapat sukses dalam berbagai tahap dalam hidupnya melalui kaca mata islam.

Mabrur sendiri merupakan suatu klausa tentang kehidupan dimana menciptakan suatu makna sukses dalam hidup dunia maupun akhirat. Bagaimana kriteria sukses dalam hidup itu? ada 3 dimensi yang menyatakan sukses dapat diraih dalam hidup. 3 Dimensi ini dijelaskan dalam Ayat Al-Baqarah : 177.

۞ لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dimensi Aqidah. Merupakan dimensi yang mengatur hubungan manusia secara vertikal, bagaimana mempunyai hubungan dengan Allah dengan mengimani malaikat, kitab, nabi beserta mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya. Seperti yang dijelaskan pada ayat sebelumnya aqidah berarti yakin atau mengimani. Dengan Aqidahnya mapan, maka keyakinannya mapan. Salah satu permisalannya yaitu keyakinan kepada hari akhir.

Hari akhir yang pertama yaitu mati. Sebelum menghadapi kematian, ada pintu yang disebut dengan sakaratul maut / mabuk kematian. Sakratul maut banyak macamnya. Ada yang sampai ber hari-hari ada yang 2 jam dan ada yang sebentar. Bagaimana rasanya sakaratul maut dan apa saja kejadiannya. Sakaratul maut dijelaskan dalam hadist. ada 2 kemungkinan manusia dalam sakaratul maut, yaitu yang ditolong Allah SWT dan yang tidak ditolong Allah SWT. Yang ditolong Allah akan ditarik nyawanya secara lemah lembut tapi yang tidak ditolong. Kata malaikat, rasakaaan kaliaaan!!.

Begitu meninggal, didalam kubur manusia akan didatangi oleh 2 orang malaikat. Dihadapkanlah manusia tersebut dengan pertanyaan. Maka akan ada 2 kemungkinan yaitu bisa jawab dan tidak bisa jawab. Yang bisa jawab malaikat bilang istirahatlah dan rasakan nikmat kubur. Yang tidak bisa jawab, malaikat berkata rasakan azab dalam kubur.

Dibangkitkan lalu dihadirkan pada hari Yaumul Mahsyar. Akan diserahkan rapor kehidupan kita. Ada yang menerima rapor dari sebelah kiri, maka mereka bersedih dan meminta kepada Allah, Ya Allah kembalikanlah hamba ke dunia hanya sehari saja. Yang menerima dari kanan maka mereka akan bersenang menikmati hari akhir.

Lalu bagaimana Aqidah kita? Mau menerima rapor dari sebelah kiri atau sebelah kanan. Hal ini pasti kita alami maka kita harus yakin. Dengan keyakinan itu, maka kita harus berupaya untuk lepas dari itu semua. Rasulullah berkata “raihlah surgamu meskipun sebesar biji kurma”.

Dimensi Sosial. Dimensi sosial yaitu dimana seorang hamba Allah SWT mampu memberikan harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir orang meminta-minta. Dimensi ini merupakan dimensi sosial kemasyarakatan. Mabrur terkenal di Indonesia melalui dimensi ini. Beberapa contohnya diantara lain:

  • Habib Bugak al Asyi. Habib dari kerajaan Aceh yang belajar di Makkah dan Madinah. Beliau mempunyai tanah yang luas di Masjidil Haram. Lalu menyerahkannya ke badan yang ada di Mekah agar bisa dikelola. Dengan syarat setengah hasil pengelolaan wajib diberikan kepada masyarakat Aceh dan pemuda Aceh yang belajar di Makkah dan Madinah. Hingga satu orang yang belajar di Makkah mendapatkan santunan untuk kehidupan.
  • H. Oemar Said Cokroaminoto. Seseorang yang menyediakan rumah sebagai tempat belajar dirumahnya yang menyediakan makanan dan tempat tinggal dan sebagai pengajar. Murid itu orang terkenal di Indonesia yaitu Soekarno, Agus Salim, Marijan Kartosuwiryo.
  • H. Samanhudi. Saat masyarakat dirundung malang dengan adanya sistem rentenir. Muncul pengusaha batik dan menyadarkan pengusaha tentang adanya ekonomi islam dan ekonomi bersama. Dengan memberikan sosialisasi bahwa riba dan rentenir itu haram. Beliau membuat perserikatan dengan nama serikat dagang islam.

Dimensi Jati Diri. Merupakan dimensi yang mencirikan keteguhan hati kita bangsa indonesia dan islam. Hal ini dapat dilihat dari perjuangan yang muncul sewaktu adanya ultimatum dari inggris yang ingin menghancurkan Surabaya pada waktu dulu. Haji Hasyim Asy’ari akhirnya berkumpul dengan para ulama pesantren yang ada di Surabaya untuk mengeluarkan fatwa. Fatwa berupa siapapun umat islam yang ada ditanah air wajib membela tanah air dan wajibnya adalah wajib ‘ain, yang tidak mendukung adalah pengkhianat dan yang mati membela negeri ini adalah syahid. Hidup mulia atau mati syahid. Hal ini termaktum dalam pidatonya Bung Tomo yang membakar semangat rakyat.

Keberhasilan dalam kumpulan dimensi tersebutlah yang disebut Mabrur. Nah, namun bagaimana perjalanan sampai jadi Mabrur. Maka bisa ditelaah dari rukun islam yang didalamnya diatur dimensi-dimensi tersebut.

Syahadat. Merupakan pernyataan untuk tunduk kepada Allah dan Rasul dengan dilandasi dengan kesadaran bahwa mereka itu ada dan benar.

Shalat. Shalat memiliki tujuan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar. Hal ini dapat dicapai dengan melakukannya dengan khusyu’ dan terpelihara.

Zakat. Zakat bertujuan untuk membersihkan diri dari sifat sifat seperti pelit, serakah dan penyakit lainnya. Lalu untuk membersihkan harta karena sadar bahwa ada sebagian harta orang lain di kita. Contohnya sayur asem atau kopi, ada berapa orang yang ikut campur dalam menjadikan sayur asem ataupun kopi. Yang nanam, yang ngemas, yang bawa kepasar, barulah jadi kopi. Pelajaran yang diambil adalah bahwa kita tidak bisa hidup sendiri tapi ada butuh orang lain yang berkontribusi terhadap kita.

Shaum. Shaum beda dengan puasa. Bila belajar silat dengan pak guru silat disuruh puasa dulu yaitu puasa mutih. Sedangkan Shaum meninggalkan makan minum syahwat semata-mata karena Allah dari sebelum terbit sampai tenggelam matahari. Tujuannya adalah untuk menjadikan kita orang bertaqwa. Pelajaran yang diambil adalah bagaimaana kita penuh dengan keimanan dan penghayatan.

Haji. Keempat rukun islam diatas merupakan landasan utama hingga kita dapat menunaikan ibadah terakhir ini. Ibadah terakhir ini sebagai pelengkap dari rukun islam kesatu sampai keempat. Oleh karenanya tidak dapat dikatakan Haji seseorang itu Mabrur jika rukun yang pertama sampai dengan keempat masih jauh dari pencapaian.

Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pengertian Mabrur bisa diartikan dalam suksesnya seorang Muslim dalam ibadah Haji. Namun dalam praktiknya dan definisi kaidah dari Mabrur, Allah SWT menuntut kita untuk menyeimbangkan hal terkait dunia dan akhirat melalui dimensi yang dijelaskan tadi.

Notes: Tulisan ini bersumber dari kajian yang diikuti oleh penulis di Masjid Al-waqfiyah, Bluntas Salemba pada 1 September 2019.